Kamis, 16 Oktober 2008

Hidup bukan ditentukan panjang pendeknya

Hidup bukan ditentukan panjang pendeknya
Jeffrey Lim

Bila kita melihat daftar keturunan Adam di dalam Kejadian 5, kita melihat daftar nama-nama beserta umurnya dicatat. Adam hidup mencapai 930 tahun kemudian Set hidup 912 tahun, Enos 815 tahun, Kenan 910 tahun, Mahalalleel 850 tahun, Yared 962 tahun, Henokh 365 tahun, Metusaleh 969, Lamekh 770 tahun.
Di jaman ini umur manusia begitu panjang tetapi setelah peristiwa air bah umur manusia menjadi pendek. Kita tidak akan membahas mengenai kerusakan kosmik yang mengakibatkan umur manusia menjadi pendek setelah air bah. Tetapi melihat daftar di atas kedua yang paling tinggi umurnya adalah Metusaleh ( tertinggi – 969 ) dan kedua adalah Yared ( 962 ). Di tengahnya ada seorang yang umurnya paling pendek yaitu Henokh ( 365 ).
Secara umum manusia beranggapan bila umur panjang adalah beruntung dan berumur panjang adalah diberkati. Tetapi kita melihat bahwa arti seseorang diberkati dan arti hidup adalah bukan dari panjang pendeknya. Yang paling penting adalah akhirnya. Kita melihat hidup Henokh adalah yang terpendek. Tetapi Alkitab mencatat sesuatu yang istimewa dari hidup Henokh dimana yang lain tidak dicatat yaitu Henokh bergaul karib dengan Allah. Dan kemudian Alkitab mencatat bahwa Henokh diangkat oleh Allah. Di Alkitab hanya dicatat dua orang yang diangkat naik oleh Allah yaitu Henokh dan Elia. Mereka adalah orang khusus dan mereka hidupnya dihargai Allah.
Dari pelajaran ini kita bisa belajar bahwa hidup manusia itu yang penting adalah maknanya. Hidup manusia paling penting adalah bergaul karib dengan Allah. Hidup manusia bukan ditentukan oleh panjang pendeknya. Tetapi dari bagaimana dia berelasi dengan Tuhan Allah sebagai pemberi arti hidup. Sungguh hidup ini berarti bila Allah sendiri menghargainya.
Buat apa hidup kita panjang tetapi hidup kita penuh dengan dosa ? Buat apa hidup kita panjang tetapi mengecewakan hati Allah ? Hidup Yesus sendiri adalah singkat. Hanya 33 ½ tahun. Tetapi maknanya adalah untuk selama-lamanya. Karena itu di dalam hidupmu yang singkat itu, hendak isi makna apakah ?



Read More......

Rabu, 15 Oktober 2008

Manhood and Womanhood in the Bible

Manhood and Womanhood in the Bible
Jeffrey Lim

A. Masalah keluarga dan gender di dalam dunia ini

Manusia adalah mahluk sosial. Manusia adalah mahluk yang berrelasi. Manusia diciptakan oleh Tuhan Allah ada laki-laki dan ada perempuan. Ini sebenarnya sesuatu yang indah di dalam tatanan yang Tuhan ciptakan. Laki-laki sebagai kepala dan wanita sebagai penolong. Tetapi di jaman sekarang banyak problema yang timbul di dalam gender yaitu salah satunya adalah feminisme atau bisa juga masculisme sebaliknya. Ada banyak problema di dalam masyarakat dunia sekarang ini dalam kaitan dengan gender dan keluarga :

Ada wanita yang menjadi pemimpin keluarga dimana seharusnya laki-laki yang mengepalainya
Ada laki-laki yang berpoligami
Ada laki-laki yang mempunyai simpanan
Ada laki-laki yang berpandangan wanita itu lebih rendah
Perceraian yang semakin banyak
Konflik keluarga yang semakin banyak
Penyelewengan di dalam keluarga
Ada wanita yang mempunyai anak tetapi tidak ingin menikah dan single parent.
Homoseksualitas dan lesbian semakin banyak
Dll
Ini semua adalah problema yang dihadapi oleh banyak manusia di dalam dunia ini. Keluarga banyak konflik dan masyarakat di ambang kehancuran. Semua ini karena manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan manusia tidak kembali pada standard kebenaran. Problema Kejadian 3 mengakibatkan relasi keluarga rusak. Adam menuduh Hawa. Adam sebagai kepala menyalahkan penolongnya. Bahkan relasi antara suami istri menjadi kacau. Kej 3:16 menjelaskan
“namun engkau akan berahi ( teshookaw ) kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” ( Kej 3:16 ). Ini berarti laki-laki akan berkuasa terhadap wanita tidak dengan kasih seperti semula tetapi dengan kekuasaan dan wanita juga akan menguasai laki-laki. Berahi di dalam bagian ini kalau kita mau eksegese sebenarnya berarti menguasai. Kata berahi( teshookaw ) ini dipakai di dalam kalimat
“Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda ( teshookaw ) engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” ( Kej 4:7 ). Berahi ini sebenarnya bukan keinginan seksual tetapi keinginan untuk menguasai. Untuk lebih jelas silahkan eksegesis dengan lebih detail.
Karena dosa maka laki-laki dan perempuan akan saling menguasai. Karena dosa maka ada konflik di dalam rumah tangga. Karena dosa maka adanya permusuhan antara manusia dengan manusia. Adanya ketidak percayaan, adanya ketidaksetiaan dan adanya penyelewengan. Semua ini karena manusia sudah berdosa kepada Allah sumber hidup.
Bagaimana supaya manusia kembali kepada tatanan yang benar ? Bagaimana supaya problema keluarga diatasi ? Bagaimana problema gender diatasi ? Kita bukan sekedar menjawab problema tetapi yang penting adalah kembali kepada Tuhan dan apa yang Tuhan nyatakan di dalam FirmanNya.
Tuhan mengatakan bahwa rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera. Apa yang Tuhan nyatakan dalam FirmanNya adalah rancangan yang mendatangkan kebaikan bagi kita umatNya.

B. Rencana Allah di dalam Alkitab mengenai laki-laki dan perempuan

Alkitab mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia diciptakan menurut gambar Allah Tritunggal. Untuk mengerti lebih jelas mengenai manusia, kita harus mengenal Allah. Calvin mengatakan bahwa ketika kita mengenal Allah maka kita mengenal diri dan ketika kita mengenal diri maka kita mengenal Allah. Jadi untuk mengenal diri kita harus mengenal Allah Tritunggal.
Allah Tritunggal adalah Allah yang esa tetapi mempunyai 3 pribadi. Ada kesatuan tetapi ada keragaman. Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. KetigaNya esa. Di dalam Allah Tritunggal terdapat beberapa prinsip yaitu :
Ordo
Adanya ordo ( urutan kekepalaan ) yaitu Allah Bapa kemudian Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Allah Bapa mengepalai Allah Anak. Allah Bapa dan Allah Anak mengepalai Allah Roh Kudus.
Kesetaraan
Baik Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus adalah setara dan sama tinggi. Tetapi ada ordonya.
Kasih dan pelayanan
Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah kasih. ( 1 Yohanes 4:8 ) Berarti Allah Tritunggal adalah kasih. Kasih merupakan atribut Allah yang sangat penting. Pemazmur sering berkata “Kasih setiaNya untuk selama-lamanya”. Kasih Allah adalah kekal adanya. Sebelum Dia menciptakan bumi beserta isinya yang juga termasuk manusia, Dia adalah kasih adanya. Siapakah yang Dia kasihi sebelum ada manusia yang Ia kasihi ?
Allah mengasihi diriNya sendiri. Allah Tritunggal saling mengasihi satu sama lain. Allah Bapa mengasihi Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Allah Anak mengasihi Allah Bapa dan Allah Roh Kudus. Allah Roh Kudus mengasihi Allah Bapa dan Allah Anak. Ketiga pribadi Allah saling mengasihi satu sama lain. Di dalam tiga pribadi ada kesatuan. Dan di dalam tiga pribadi ada satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Hubungan Allah Tritunggal merupakan hubungan yang harmonis. Benar-benar harmonis. Hubungan Allah Tritunggal yang harmonis ini dimana ada keragaman namun ada kesatuan yang harmonis merupakan dasar hidup kita sebagai orang Kristen.
Alkitab juga mengajarkan bahwa ada saling menghargai, saling melayani, saling mengasihi dan saling menganggap yang lain lebih utama di dalam ketiga pribadi Allah Tritunggal. Allah Tritunggal tidak mementingkan pribadiNya sendiri terlepas dari pribadi yang lain namun saling memperhatikan. Perhatikanlahlah Allah Bapa mengasihi dan memuliakan Allah Anak. Di atas gunung Allah Bapa berkata “Inilah Anak yang kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” ( Matius 17:5 ). Yesus Kristus berkata “BapaKulah yang memuliakan Aku” ( Yohanes 8:54 ). Allah Anak juga memuliakan Allah Bapa. Yesus Kristus berkata :”Bapa, muliakanlah namaMu” (Yohanes 12:28 ). Yesus Kristus mengajarkan doa Bapa kami yang berisi “Bapa kami yang ada di dalam surga, dikuduskanlah namaMu” ( Matius 6:9). Alkitab juga mengajarkan bahwa Allah Bapa dan Allah Anak saling memuliakan :”Jikalah Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diriNya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.( Yohanes 13:32 ). Yesus Kristus berkata “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah AnakMu supaya AnakMu mempermuliakan Engkau.” ( Yohanes 17:1 ) . Alkitab mengajarkan Allah Bapa dan Allah Anak saling mempermuliakan satu sama lain. Yesus juga menganggap Allah Bapa lebih besar walaupun Dia setara dengan Bapa: “Aku pergi kepada BapaKu sebab Bapa lebih besar dari pada Aku” ( Yohanes 14:29 )
Allah Anak juga memuliakan dan menganggap Allah Roh Kudus lebih besar dari diriNya. Yesus Kristus berkata “Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. Apabila seorang menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.” ( Matius 12:32 ). Demikian juga Allah Roh Kudus memuliakan Allah Anak. Alkitab mengatakan bahwa Roh Kudus mengajar dan mengingatkan orang percaya kepada Kristus : “Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” ( Yohanes 14:26 ). Alkitab mengajarkan mengenai Roh Kudus :”Tetapi apabila Ia datang yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku ( Kristus ), sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada Ku” ( Yohanes 16:14 )
Lalu apa kaitan antara Allah Tritunggal dengan keluarga, laki-laki dan perempuan ?
i. Allah Tritunggal menjadi pola di mana relasi manusia diatur. Karena Allah adalah Allah yang berelasi maka manusia adalah manusia yang berelasi. Karena Allah tidak seorang diri maka manusia tidak seorang diri. Karena adanya ordo di dalam diri Allah maka didalam hidup manusia adanya ordo :
a. Laki-laki dan perempuan
b. Orang tua dan anak
c. Tuan dan hamba
ii. Karena adanya kesetaraan di dalam Allah Tritunggal maka adanya kesetaraan di dalam hidup manusia. Semua manusia adalah setara. Laki-laki dan perempuan adalah setara. Karena Allah Tritunggal adalah saling melayani maka manusia harus saling melayani.

Kembali kepada apa yang Alkitab katakan mengenai laki-laki dan perempuan.
Allah menciptakan manusia menurut pola Tritunggal. Adanya kesatuan tetapi adanya keragaman. Hubungan Allah Tritunggal yang terintim itu dilukiskan di dalam hubungan suami dan istri di dalam relasi perjanjian yaitu pernikahan. Dua menjadi satu dimana di dalam Allah Tritunggal adalah esa tetapi mempunyai tiga pribadi.

Kemudian Alkitab mengajarkan bahwa relasi laki-laki dan perempuan itu dilukiskan di dalam analogi relasi Allah dengan umatNya dan relasi antara Kristus dengan gerejaNya.
Relasi antara Allah dan umatNya dilukiskan di dalam nuansa perjanjian ( covenant ). Apa itu covenant ? Covenant adalah perjanjian antara 2 pihak dimana di dalam relasi adanya komitmen dan adanya satu kesetiaan. Relasi antara kita dengan Tuhan adalah relasi perjanjian. Ini digambarkan dengan nuansa pernikahan. Allah sebagai suami dan umatNya sebagai istrinya. Relasi antara Kristus dengan jemaat juga dilambangkan dengan hubungan suami istri. Ini adalah dalam nuansa perjanjian. Karena itu Alkitab mengajarkan
“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya
(Efesus 5:22-25)
Di dalam relasi ini kita bisa belajar beberapa hal yaitu :
Ordo
Ketaatan
Kesetiaan
Kasih
Pelayanan
Pengorbanan

Di dalam relasi ini adalah eksklusif tanpa pihak ketiga, karena itu pernikahan yang Allah inginkan adalah monogami.

Read More......

Plot hidup dan penderitaan

Plot hidup dan penderitaan
Jeffrey Lim


“Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah” ( 2 Korintus 1:3-5 )

Realita hidup mengajarkan bahwa hidup ini menderita. Orang Budhis mengatakan bahwa hidup ini penderitaan. Lahir menderita. Tua menderita. Sakit menderita dan mati menderita. Kenyataan memang berbicara bahwa hidup ini pahit. Hidup ini penuh dengan jerih lelah. Hidup ini penuh dengan peluh. Hidup ini penuh dengan kekerasan. Hidup manusia banyak mencucurkan air mata. Hidup ini adalah satu tragedi.
Siapa manusia yang dapat berkata hidup tidak menderita ? Siapa dapat berkata bahwa hidup ini tidak penuh dengan kepahitan ? Siapa diantara manusia yang dapat menyangkalnya ? Perhatikanlah kehidupan kita ini ! Bacalah koran dan berita di TV ! Lihatlah dengan mata ! Bukalah mata lebar-lebar ! Dengarlah dengan telinga ! Kondisi jiwa manusia modern mengalami kekuatiran, stress, depresi, kecemasan dan ketakutan. Jiwa manusia menjadi tidak tenang dan damai. Banyak kehidupan rumah tangga yang rusak. banyak anak-anak yang hidup tidak beres. Terjadi peperangan di dunia ini. Kemiskinan dimana-mana. Moral semakin merosot. Hidup menjadi tertekan. Angka bunuh diri meningkat. Orang yang mengalami depresi menjadi lebih banyak. Tingkat perceraian semakin tinggi. Kekosongan hidup semakin besar dalam hidup manusia. Kemiskinan merajalela dimana-mana. Penyakitpun banyak merongrong hidup manusia. Serangan kanker ada dimana-mana. Di dalam makanan kitapun sudah tidak aman. Inilah realita hidup ! Bila seseorang dapat menyangkal realita penderitaan hidup ini tetapi cobalah dia menyelidiki kedalaman hatinya ! Bila dia jujur maka dia harus mengakui bahwa dirinya sendiri menderita. Hati nurani walaupun sudah tercemar tetapi tidak dapat mengelabui bahwa ada realita penderitaan. Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa Hidup ini tragedi. Hidup ini menderita.
Di dalam hidup yang menderita ini bagaimana orang Kristen memandang penderitaan ? Bagaimana perpektif orang Kristen terhadap penderitaan ?
Orang-orang modern menganggap penderitaan ini dengan kacamata penyelesaian. Orang modern yang rasionalis selalu memandang dunia ini dengan kacamata Subjek-Objek dimana diri sebagai subjek dan yang diluar diri sebagai objek. Pikiran ini berasal dari Rene Decartes. Filsafat rasionalisme Descartes terkenal dengan kata “I think therefore I am”. Artinya adalah karena saya berpikir maka saya ada. Apa implikasi pikiran rasionalisme ini ? Yang menjadi pusat keberadaan adalah saya. Saya yang besar I menjadi subjek untuk mengetahui segala sesuatu. Dan segala sesuatu di luar saya adalah objek.
Di dalam menghadapi masalah, orang modern menganggap masalah itu sebagai objek diluar diri saya. Objek masalah ini dianalisa, dicari penyebabnya, diteliti, dipahami, dimengerti naturnya dan dicari solusinya. Inilah cara orang modern mencari penyelesaian terhadap penderitaan. Ambil contoh ada penderitaan karena penyakit maka dicari penyebab penyakitnya dan dicari dan diselidiki obatnya di laboratorium. Ada penyakit SARS, dicari obatnya. Ada penyakit AIDS dicari obatnya. Contoh lain adanya penderitaan karena perang maka dicari penyebab perang dan dicari solusinya secara rasional. Contoh lain adalah adanya masalah di perusahaan maka dicari sumber masalahnya secara rasional dan diselesaikan masalahnya. Adanya krisis ekonomi dicari penyebabnya secara rasional dan diselesaikan masalahnya.
Orang modern mempunyai filsafat hidup problem-solving ( menyelesaikan masalah ). Manusia dianggap sebagai penyelesai masalah ( problem solver ) dan orang modern mempunyai anggapan bahwa manusia mampu ( capable ) untuk menyelesaikan masalah kehidupan ( dalam hal ini penderitaan ). Orang-orang modern mempunyai pandangan optimis terhadap kehidupan dan kepada kemampuan manusia untuk menghadapi hidup. Terutama orang modern optimis terhadap rasio manusia sebagai sumber kebenaran dan penyelesaian masalah. Tetapi ternyata orang-orang modern menemukan buntu di dalam menyelesaikan masalah kehidupan. Ternyata masalah yang satu dihilangkan ada masalah lain. Masalah satu diselesaikan ada masalah lain datang. Setelah penyakit satu disembuhkan ada realita penderitaan yang lain. Setelah perang selesai masih ada penderitaan lain. Realitanya penderitaan tidak pernah hilang. Bahkan ketika menyelesaikan satu masalah ternyata mungkin juga menimbulkan masalah lain. Teknologi, Ilmu pengetahuan, ekonomi, hukum, etika, filsafat, agama tidak bisa menghilangkan realita penderitaan. Jadi realita mengatakan bahwa hidup itu memang menderita. Dengan cara problem solving ternyata tidak bisa menghilangkan penderitaan. Penderitaan itu exist ( ada ).
Orang-orang postmodern mempunyai pandangan lain terhadap penderitaan. Bagi mereka penderitaan ini sesuatu bagian di dalam hidup. Bagi mereka penderitaan itu bukan sesuatu Objek di luar yang bisa diselesaikan seperti pandangan orang modern. Bagi mereka penderitaan ini adalah plot atau alur dari hidup manusia. Penderitaan ini bagian dari hidup manusia. Penderitaan ini ada secara subjektif di dalam setiap pribadi. Yah inilah hidup ! Hidup yang dimana ketika kita menghidupinya, kita menghidupinya di dalam penderitaan. Jadi penderitaan adalah bagian hidup dan ada di dalam hidup yang tidak terpisahkan. Ketika banyak terjadi masalah, kekacauan di dalam hidup, perang, konflik, permusuhan, sakit penyakit maka inilah hidup manusia. Inilah realita. Maka orang-orang postmodern mempunyai pandangan yang pesimis terhadap kehidupan ini. Mereka sadar bahwa hidup ini menderita. Hidup ini berada di plot atau alur penderitaan. Plot hidup adalah menderita. Arah dan alur hidup ini ditentukan oleh plot penderitaan. Kita mengenal bahwa di dalam cerita narasi ada alur, karakter dan latar belakang. Hidup manusia juga seperti sebuah cerita narasi dimana ada alurnya. Alurnya ini adalah penderitaan. Benarkah pandangan orang postmodern bahwa hidup ini diatur oleh penderitaan. Benarkah pandangan mereka bahwa hidup ini diarahkan oleh penderitaan ?
Sebenarnya bila plot penderitaan menjadi plot hidup maka penderitaan ini mempunyai kuasa seperti Tuhan yang mengarahkan hidup. Musa berdoa di dalam Mazmur 90 yaitu supaya Tuhan membuatnya bersukacita seimbang dengan hari-hari Tuhan menindasnya. Sebab bila hidup hanya diatur oleh penderitaan maka penderitaan ini menjadi Tuhan.
Sekarang bagaimana orang Kristen memandang penderitaan ini ?
Pertama memang harus diakui bahwa manusia ini menderita karena manusia sudah jatuh ke dalam dosa. Dunia ini sudah dikutuk. Dan manusia ada di dalam permusuhan dengan Allah, dengan sesama, dengan diri dan dengan alam. Karena itu penderitaan ada di dalam dunia ini.
Tetapi satu hal yang harus dipahami dan dimengerti. Penderitaan ini memang ada selama orang percaya hidup di dalam dunia maka penderitaan ini tidak harus menjadi alur atau plot yang membentuk hidup mereka. Penderitaan tidak harus bahkan jangan menjadi plot hidup yang mengarahkan hidup orang percaya. Mengapa ? Sebab Kristus datang untuk menebus penderitaan bagi Allah ! Kristus datang supaya manusia yang menderita plot hidupnya tidak dikuasai oleh penderitaan tetapi plot atau alur hidupnya diarahkan untuk Tuhan. Perempuan samaria mempunyai 5 suami dan plot hidupnya dipenuhi penderitaan. Dia sudah dihianati dan ditolak oleh banyak laki-laki dan bahkan banyak orang menghina dia sehingga dia harus pergi mengambil air siang-siang supaya tidak bertemu orang dipagi hari. Hidupnya pahit dan menderita. Tetapi ketika bertemu dengan Kristus, hidupnya berubah dan bahkan menjadi penginjil. Orang garasa plot hidupnya dikuasai oleh kuasa kegelapan sehingga dia berada di dalam kuasa iblis. Tetapi karena bertemu dengan Tuhan Yesus maka plot hidupnya menjadi berubah. Zakheus seorang pemungut cukai plot hidupnya dibenci masyarakat dan kesepian. Tetapi ketika ia bertemu dengan Kristus maka hidupnya berubah. Orang buta yang dicelikkan, orang lumpuh yang berjalan, satu orang kusta dari 10 yang tahir berubah plotnya karena Kristus. Kristus datang untuk mengubah plot hidup manusia yang menderita.
Jadi bagi orang percaya, penderitaan tidak menjadi plot yang mengatur hidup mereka ! Karena itu orang percaya harus menerobos realita penderitaan supaya penderitaan tidak menjadi plot hidup mereka.
Fanny Crosby seorang perempuan buta yang banyak menulis lagu hymne tidak dikuasai oleh plot kebutaannya. Dia dengan efektif menjadi penulis hymn bahkan sampai 9000 hymn diperkirakan ditulisnya dan hidupnya memuliakan Tuhan. Joni Earekson Tada yang menjadi lumpuh total tidak dikuasai oleh plot penderitaan kelumpuhannya bahkan menjadi berkat dengan hidupnya menjadi pembicara dan penulis buku. Ada buku baik yang ditulisnya yaitu adalah “when God weep” Ketika Allah meratap. William Cowper menderita penyakit mental seumur hidupnya dan penuh dengan depresi serta melankolik. Tetapi hidupnya tidak dikuasai plot penderitaannya bahkan hidupnya masih menjadi berkat ketika dia menghasilkan karya-karya hymn sebanyak 64 bagi Tuhan dan juga banyak karya sastra ,puisi yang ditulisnya.. John Bunyan yang menderita dipenjara karena Injil selama 3 kali masih terus menginjili karena penjara tidak menghalangi plot hidupnya. Rasul Paulus sendiri yang menderita kekurangan, penaniayaan, kelaparan, dll tidak menganggap itu semua menjadi plot yang menguasai hidupnya tetapi rencana Allah menjadi plot hidupnya.
Jadi bagi kita orang percaya, penderitaan bukan menjadi plot hidup kita karena bagi kita orang percaya ada kuasa penebusan di dalam Kristus yang bisa mengubah hidup manusia dan mengarahkan hidup manusia untuk Allah. Kristus datang supaya manusia memperoleh hidup bahkan hidup yang berkelimpahan. Roh Kudus juga diberikan untuk tinggal di dalam diri kita orang percaya. Roh Kudus menyucikan, menghiburkan, mengajar, menasihati dan memimpin hidup kita orang percaya. Karena itu penderitaan bukan menjadi sesuatu yang sangat menakutkan bagi orang percaya. Mengapa ? Bahkan ketika kita orang percaya menderita, penderitaan itu adalah karunia Tuhan untuk membentuk kerohanian kita.
Dengan penderitaan, Tuhan Allah membikin plotNya di dalam diri kita orang percaya bukan supaya kita dikuasai penderitaan tetapi supaya kita hidup sesuai dengan jalanNya yang indah. Karakter yang diperbaharui, hidup yang bergantung kepada Tuhan ini semua rencana Tuhan yang indah. Ini semua dialami oleh orang percaya. Pemazmur mengatakan bahwa “Sebelum aku tertindas aku menyimpang tetapi sekarang aku berpegang kepada janjiMu. Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapanMu.
Bagi orang percaya, kita semua hidup di dalam Plot Kerajaan Allah. Kerajaan Allah sudah datang dan Allah memerintah. Allah memerintah orang percaya ini sudah terjadi ( already ) walaupun belum terrealiasi secara penuh ( not yet ). Jadi orang percaya hidup di dalam atmosfir kerajaan Allah. Kata atmosfir ini kata yang indah. Kita hidup di dalam atmosfir kerajaan Allah. Dan di dalam atmosfir kerajaan Allah, segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Tuhan. Di dalam atmosfir kerajaan Allah, Tuhan Allah berdaulat atas hidup manusia. Di dalam atmosfir kerajaan Allah, segala sesuatu indah pada waktunya.
Ada beberapa prinsip yang boleh menghibur kita orang percaya di dalam penderitaan.
Pertama kita sudah diselamatkan dari dosa yang merupakan masalah utama kehidupan manusia. Jadi kehidupan ini ada pengharapan karena pengampunan dosa. Kita sudah diselamatkan dan pemazmur mengatakan bahwa orang yang diampuni dosanya itu orang yang berbahagia dan diberkati.
Kedua kita tahu bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang percaya yang mengasihiNya. Ini janji Tuhan. Dan kita percaya bahwa Tuhan Allah berdaulat dan setia pada janjiNya. Segala sesuatu akan indah pada waktunya.
Ketiga kita tahu bahwa penderitaan pada saat ini tidak bisa dibandingkan dengan kemuliaan di masa mendatang. Kita boleh berharap dan beriman bahwa satu saat penderitaan ini akan hilang dan di surga tidak ada lagi air mata dan tangisan. Ada salib tetapi ada kemuliaan.
Keempat, kita mempunyai Tuhan Allah yang menyertai umatNya bahkan ketika melewati lembah bayang-bayang maut. Penyertaan Tuhan adalah penghiburan terbesar bagi umat Tuhan.
Kelima, seluruh janji Tuhan berlaku bagi orang percaya yang menderita. Tuhan menguji kita tidak melebihi kekuatan bahkan memberikan jalan keluar. JanjiNya memberikan kekuatan.
Keenam Seluruh penderitaan ini tidak sia-sia tetapi ada maksudnya. Hidup di dalam Tuhan ada artinya.
Karena itu marilah kita merefleksi bersama ! Apakah penderitaan yang kita alami ? Apakah penderitaan ini menjadi alur atau plot dalam hidup kita ? Apakah sakit penyakit menjadi plot yang mengatur hidup kita ? Apakah kelemahan menjadi plot yang mengatur hidup kita ? Apakah kemalangan menjadi plot yang mengatur hidup kita ? Apakah krisis ekonomi menjadi plot yang mengatur hidup kita ? Apakah situasi dunia menjadi plot yang mengatur hidup kita ? Apakah dosa menjadi plot yang mengatur hidup kita ? Apakah kesalahan kita menjadi plot yang mengatur hidup kita ? Apakah masa lalu menjadi plot yang mengatur hidup kita ? Apakah lingkungan menjadi plot yang mengatur hidup kita ? Maukah hidup kita diikat oleh plot penderitaan atau maukah kita bebas dari plot penderitaan yang menguasai hidup kita ?
Maka datanglah kepada Tuhan Yesus Kristus yang sanggup mengubah plot hidup kita untuk beribadah kepada Tuhan Allah. Marilah kita hidup di dalam atmosfir Kerajaan Allah di dalam Kristus. Satu-satunya yang dapat merubah plot hidup manusia adalah Firman Tuhan.

Read More......

Renungan mengenai kasih Allah Tritunggal

Renungan mengenai kasih Allah Tritunggal

Allah Tritunggal adalah dasar kita mengasihi
- By Jeffrey Lim –

“Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan, kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan jangan tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi juga orang lain juga.”
( Filipi 2:1-4 )

Di jaman postmodern sekarang ini banyak yang dinamakan Virtual Community seperti Friendster, chatting, blog, dll. Apakah komunitas maya ini sungguh-sungguh komunitas ? Apakah ini sungguh-sungguh persekutuan ? Apakah komunitas ini real ? Apakah komunitas ini menyentuh kedalaman persekutuan pribadi ?
Ada juga pertanyaan : Apa itu komunitas sesungguhnya ? Apa dasar dari komunitas ? Apa dasar dari masyarakat di dalam dunia ini ?
Kembali ke ayat di atas. Kita orang percaya hidup di dalam gereja an Gereja adalah komunitas orang Kristen. Yang membuat gereja bersatu adalah kasih. Tuhan Yesus juga mengajarkan kepada murid-muridNya yaitu : “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Dan Rasul Paulus ,seorang yang pernah menganiaya jemaat Kristus, setelah dia bertobat dan mengenal kasih Allah maka dia mengajarkan kepada jemaatnya supaya mereka saling mengasihi saudara seiman di dalam Kristus. Di dalam surat Filipi ini Paulus mengajarkan bahwa di dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan, kasih, persekutuan Roh dan kasih mesra.
Di dalam Kristus berarti di dalam Dia dimana orang percaya adalah tubuh Kristus dan Kristus adalah kepalanya. Kristus adalah kepala jemaat yang menyelamatkan tubuh. Kristus mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya untuk menguduskannya ( Efesus 5 ) Di dalam Kristus kita semua satu. Kita semua satu tubuh di dalam Kristus. Kita yang berbeda-beda, yang beragam semua satu di dalam Kristus.
Lalu apa dasar kita sebagai sesama saudara seiman untuk mengasihi ? Apa dasar kita yang beragam ini untuk satu di dalam Kristus ? Kita semua ada banyak dan berbeda-beda tetapi dalam satu tubuh.
Ada lagi pertanyaan yang lebih umum : Apa dasar dari komunitas di dalam dunia ini ? Mengapa manusia yang beragam saling berelasi satu sama lain sebagai mahluk sosial ?
Dasar komunitas, dasar masyarakat di dalam dunia dan Dasar kita orang percaya saling mengasihi ada di dalam pribadi Allah Tritunggal. Allah orang Kristen adalah Allah Tritunggal. Allah Tritunggal menciptakan manusia menurut gambarNya dan manusia menyerupai penciptaNya . Firman Tuhan mengajarkan bahwa Allah adalah satu.
“Dengarlah, hai orang Israel : Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa ! Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” ( Ulangan 6:4 )
Namun selain satu Allah juga mempunyai 3 pribadi. Yesus Kristus berkata :
“KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama ( satu ) Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” ( Matius 28:18-19 )
Allah satu sekaligus banyak. Ini adalah misteri. Allah Tritunggal juga pribadi yang bersosial. Allah Tritunggal merupakan satu misteri yang tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh kita manusia. Namun bukan berarti kita tidak bisa memahami sama sekali. Kita dapat memahaminya dengan kerelaan Allah sendiri yang menyatakanNya kepada kita. Allah Tritunggal inilah yang merupakan dasar kita saling mengasihi saudara seiman kita, yang merupakan dasar saling mengasihi di dalam tubuh Kristus. Apa maksudnya ?
Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah kasih. ( 1 Yohanes 4:8 ) Berarti Allah Tritunggal adalah kasih. Kasih merupakan atribut Allah yang sangat penting. Pemazmur sering berkata “Kasih setiaNya untuk selama-lamanya”. Kasih Allah adalah kekal adanya. Sebelum Dia menciptakan bumi beserta isinya yang juga termasuk manusia, Dia adalah kasih adanya. Siapakah yang Dia kasihi sebelum ada manusia yang Ia kasihi ?
Allah mengasihi diriNya sendiri. Allah Tritunggal saling mengasihi satu sama lain. Allah Bapa mengasihi Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Allah Anak mengasihi Allah Bapa dan Allah Roh Kudus. Allah Roh Kudus mengasihi Allah Bapa dan Allah Anak. Ketiga pribadi Allah saling mengasihi satu sama lain. Di dalam tiga pribadi ada kesatuan. Dan di dalam tiga pribadi ada satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Hubungan Allah Tritunggal merupakan hubungan yang harmonis. Benar-benar harmonis. Hubungan Allah Tritunggal yang harmonis ini dimana ada keragaman namun ada kesatuan yang harmonis merupakan dasar hidup kita sebagai orang Kristen.
Alkitab juga mengajarkan bahwa ada saling menghargai, saling melayani, saling mengasihi dan saling menganggap yang lain lebih utama di dalam ketiga pribadi Allah Tritunggal. Allah Tritunggal tidak mementingkan pribadiNya sendiri terlepas dari pribadi yang lain namun saling memperhatikan. Perhatikanlahlah Allah Bapa mengasihi dan memuliakan Allah Anak. Di atas gunung Allah Bapa berkata “Inilah Anak yang kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” ( Matius 17:5 ). Yesus Kristus berkata “BapaKulah yang memuliakan Aku” ( Yohanes 8:54 ). Allah Anak juga memuliakan Allah Bapa. Yesus Kristus berkata :”Bapa, muliakanlah namaMu” (Yohanes 12:28 ). Yesus Kristus mengajarkan doa Bapa kami yang berisi “Bapa kami yang ada di dalam surga, dikuduskanlah namaMu” ( Matius 6:9). Alkitab juga mengajarkan bahwa Allah Bapa dan Allah Anak saling memuliakan :”Jikalah Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diriNya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.( Yohanes 13:32 ). Yesus Kristus berkata “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah AnakMu supaya AnakMu mempermuliakan Engkau.” ( Yohanes 17:1 ) . Alkitab mengajarkan Allah Bapa dan Allah Anak saling mempermuliakan satu sama lain. Yesus juga menganggap Allah Bapa lebih besar walaupun Dia setara dengan Bapa: “Aku pergi kepada BapaKu sebab Bapa lebih besar dari pada Aku” ( Yohanes 14:29 )
Allah Anak juga memuliakan dan menganggap Allah Roh Kudus lebih besar dari diriNya. Yesus Kristus berkata “Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. Apabila seorang menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.” ( Matius 12:32 ). Demikian juga Allah Roh Kudus memuliakan Allah Anak. Alkitab mengatakan bahwa Roh Kudus mengajar dan mengingatkan orang percaya kepada Kristus : “Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” ( Yohanes 14:26 ). Alkitab mengajarkan mengenai Roh Kudus :”Tetapi apabila Ia datang yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku ( Kristus ), sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada Ku” ( Yohanes 16:14 )
Kembali kepada kitab Filipi 2:1-4, Alkitab mengajarkan supaya kita sehati, sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan dan saling mengasihi satu sama lain. Alkitab mengajarkan supaya kita menganggap saudara seiman kita lebih daripada daripada kita. Alkitab mengajarkan supaya kita tidak hanya memperhatikan kepentingan kita tetapi juga kepentingan saudara seiman kita. Dan dasarnya adalah di dalam Kristus sebagai satu tubuh. Tetapi dasarnya kita yang banyak saling satu hati mengasihi adalah juga Allah Tritunggal dan kasih di dalam Allah Tritunggal.
Seperti Allah Tritunggal saling menghormati dan memandang pribadi lainnya, kita juga harus saling menghormati dan memandang saudara seiman kita. Seperti Allah Tritunggal yang saling mengasihi dan melayani pribadi lainnya, kita juga harus saling mengasihi dan melayani saudara seiman kita. Kita bersyukur bahwa Allah Tritunggal menjadi contoh dan juga teladan bagi kita untuk hidup saling mengasihi. Kita bersyukur bahwa Allah Tritunggal menjadi model bagi umat manusia bagaimana umat manusia harus berelasi satu sama lain. Allah Tritunggal menjadi model mengenai komunitas. Allah Tritunggal menjadi model mengenai apa itu komunitas dan masyarakat. Komunitas yang sejati itu di dalam tubuh Kristus merefleksikan keberadaan yang menjadi modelnya yaitu komunitas di dalam Allah Tritunggal.
Kiranya kasih Allah Tritunggal menjadi dasar kita untuk mengasihi.


Read More......

Selasa, 22 Juli 2008

Fenomena Blog : Renungan buat para blogger

Fenomena Blog
Renungan bagi para blogger
Jeffrey Lim

Di dalam dunia cyberspace ini kita menemukan adanya fenomena baru yaitu adanya Blog. Apakah itu blog ? Blog berisi tulisan-tulisan pribadi yang dimuat di dalam website. Blog adalah media publik. Para blogger menulis dan mereka tidak ada publisher, tidak ada editor tetapi menginginkan adanya pembaca. Dan blog ini ada beberapa karakterisitik yang membuat mereka menarik yaitu transparansi. Banyak orang menulis diary harian mereka di blog dan orang lain dapat membaca cerita hidup mereka. Mungkin ada yang mengkritik bahwa blogger adalah narsistik dan menceritakan hidup mereka seolah-olah mereka adalah celebritis media publik. Tetapi kita sebagai orang percaya harus mempunyai kerangka berfikir yang komprehensif yaitu melihat media sebagai alat yang bisa positif dan bisa negatif. Seperti halnya pisau bisa dipakai untuk membunuh atau memotong apel. Tetapi bisa juga dipakai kedua-duanya. Kerangka berpikir orang Kristen terhadap budaya harus melihatnya dari kerangka Ciptaan – Kejatuhan – Penebusan. Kemudian kerangka Kristen juga harus melihat dari Common grace dan juga general revelation.

Bagaimana kita memandang fenomena blog ?
Banyak orang yang sekarang memasang blog mereka untuk menulis diary pribadi dan juga artikel-artikel pribadi. Sebenarnya fenomena ini adalah fenomena di dalam dunia postmodern dimana otoritas mulai berpindah dari yang terpusat kepada pribadi-pribadi. Setiap orang bisa menulis blog dan mensharingkan tulisannya kepada orang lain. Tetapi bagaimana kita memandang fenomena ini ? Jangan terlalu cepat mengkritik. Tentu ada sisi-sisi negatif dari blog tetapi kita harus belajar melihat sisi positifnya dan menebusnya untuk kemuliaan nama Tuhan.
Tulisan ini tentu terlalu singkat. Tetapi paling sedikit bisa membuat kita berpikir. Banyak orang di dunia maya yang saling terkait satu sama lain. Mereka membuat cyber community atau virtual community. Sebenarnya secara jujur ada beberapa esensi yang bisa kita pelajari dari fenomena blog ini yaitu Fenomena Transparansi
Sebenarnya di dalam relasi yang dalam maka manusia membutuhkan transparansi. Manusia merindukan adanya persahabatan satu sama lain dengan terbuka. Kredibilitas dapat dibangun di dalam transparansi. Keintiman, persekutuan dan komunikasi yang dalam dibangun di dalam transparansi. Ini seharusnya membuat kita orang percaya belajar hidup di dalam kebenaran, kejujuran dan juga keterbukaan. Alkitab mengajarkan bahwa kita harus saling mengaku dosa. Kita membutuhkan teman untuk saling terbuka dan transparan. Disitu baru terjadi persekutuan. Karena itu gereja harus menyediakan tempat untuk transparansi. Tetapi keterbukaan ini bukan hanya keterbukaan yang seperti orang postmodern yaitu saya terbuka dan terimalah saya apa adanya. Bukan seperti itu. Orang percaya terbuka tetapi harus ada komitmen mau berubah. Setiap orang harus saling menasihati dan saling menegur untuk saling terbuka. Kita harus berfungsi sebagai imam terhadap sesama kita.
Kemudian kita juga bisa belajar bahwa manusia itu adalah mahluk relasi. Banyak orang yang berelasi di dalam virtual community. Ini menandakan manusia memerlukan komunitas. Tetapi jelas bahwa komunitas maya ini adalah fenomena di mana manusia haus akan relasi. Satu hal yaitu bahwa relasi yang betul-betul dalam dan berkomitmen seharusnya ada di dalam persekutuan orang percaya di dalam gereja. Satu hal bahwa komunitas maya tidak dapat menggantikan hubungan dan interaksi nyata setiap pribadi di dalam hidup sehari-hari. Komunitas nyata lebih dalam tetapi lebih berisiko untuk luka. Karena itu kita harus belajar saling mengasihi di dalam relasi sehari-hari supaya orang bisa lebih bersekutu di dalam kasih dan kebenaran yaitu di dalam Kristus. Manusia memang harus saling bersekutu supaya kuat dan salah satu strategi iblis adalah membuat manusia tidak bersekutu atau bersekutu dengan yang tidak baik.
Sebelum saya menutup tulisan singkat ini maka saya ingin menyimpulkan bahwa kita harus terus membangun komunitas kita di dalam kasih dan kebenaran. Kita juga harus belajar untuk jujur mengatakan kebenaran di dalam hidup kita. Kita dipanggil untuk menyatakan kebenaran dan hidup menjadi berkat. Blog memang ada sisi negatif yang banyak tetapi juga ada sisi positif yang kita bisa belajar.
John piper menulis alasan-alasan mengapa seorang hamba Tuhan harus memiliki blog yaitu : untuk menyebarkan kebenaran, untuk belajar menulis, untuk membuat diri dikenal ( ini tidak selalu jelek ), dll. ( Cari di http://www.desiringgod.org/ )
Marilah kita belajar terus merefleksi setiap fenomena budaya dan mencoba mengerti dan menaklukan mereka kepada Kristus

Jeffrey Lim
22 July 2008
Setelah membaca buku Everyday theology
Jakarta, Institut Reformed



Read More......

Rabu, 02 Juli 2008

KKR Jakarta 2008






KKR Jakarta 2008 ...... See : http://jakarta2008.com/

Read More......

Jumat, 20 Juni 2008

Retreat Anyer 2005









































































Read More......

Kamis, 19 Juni 2008

Retreat 2004

































Read More......